Sejak mula, kita tahu bahwa yang namanya dosa menimbulkan hukuman. Bukan tentang Allah yang kejam dan tidak punya belas-kasih, melainkan merupakan suatu konsekuensi logis bahwa kekudusan Allah menolak dosa. Sebagai gambaran, kita bisa memahami ilustrasi tentang Api dan Kertas. Api pada hakekatnya adalah menyala, maka ketika kertas ditempelkan pada api, otomatis akan terbakar. Dengan demikian maka ketika kertas itu terbakar, apakah berarti Api itu jahat? Tentu tidak! Sebab konsekuensi logisnya memang demikian, hakekat kekudusan Allah menolak dosa.
Inilah yang semestinya kita tanggung sebagai manusia berdosa. Kekudusan Allah menolak keberdosaan kita. Namun demikian patutlah kita bersyukur bahwa melalui bacaan ini kita diingatkan tentang betapa besarnya kasih Karunia Allah. IA tidak meniadakan penghukuman itu, melainkan menyediakan pengganti untuk menanggung dosa kita. Dialah Kristus yang telah menderita dan mati di kayu salib.
Setelah memahami begitu besar kasih karunia Allah, lantas apa yang harus kita lakukan? Bacaan kita memberi peneguhan kepada kita bahwa pengorbanan penderitaan Kristus ternyata tidak sekadar untuk menyelamatkan kita dari dosa, melainkan juga menjadi teladan untuk diikuti jejaknya. Karena itu sebagai umat yang telah ditebus, sudah semestinya mengalami perubahan dan pembaruan hidup menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Beberapa hal konkrit yang dapat kita wujudkan sebagai bentuk perubahan dan pembaruan hidup berdasarkan jejak keteladanan kristus, kita bisa melihat dalam ayat 23-24 bacaan hari ini. Yaitu:
1. Menyangkal diri. Dalam penderitaan Kristus, disampaikan bahwa ketika IA dicaci maki, IA tidak membalas dengan caci maki. Ini menunjukkan suatu teladan yang baik yaitu penyangkalan diri. Mengapa hal ini penting? Karena mengingat kebiasaan manusia secara umum memiliki prinsip "lebih baik konfrontasi dan klarifikasi membela diri daripada menyangkal diri". Itulah maka penting bagi kita untuk meneladan Kristus yang mengutamakan penyangkalan diri daripada membela diri
2. Mengampuni. Dalam teks ini disampaikan bahwa pada saat IA dicaci maki, IA tidak mengancam mereka melainkan menyerahkannya kepada Allah yang empunya Kuasa. Kita dipanggil untuk meneladan hal tersebut, pengampunan bukan pembalasan
3. Berkorban untuk menjadi berkat. Keteladanan Kristus yang lain melalui peristiwa penderitaan dan penyaliban ditunjukkan dalam ayat 24. Yaitu tentang kesediaan-Nya berkorban demi memberkati banyak orang. Dalam banyak kesempatan, manusia lebih senang menerima berkat daripada berkorban untuk memberkati orang lain. Karena itu, keteladanan Kristus ini menjadi pelajaran yang sangat penting agar kita terdorong untuk lebih mau berkorban demi memberkati orang lain daripada hanya pasif menanti dan menerima berkat saja..
Melalui keteladanan ini, kiranya menolong kita untuk dapat dan terus mewujudkan perubahan dan pembaruan hidup berdasarkan besarnya kasih karunia Allah kepada kita semua. Amin
🙏
Mari Berdoa
Tuhan, terima kasih atas firman-Mu yang menjadi pelita bagi langkah kami.
Bantulah kami untuk menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.