Merdeka, merdeka, merdeka. Itulah pekik yang selalu diucapkan selama bulan kebangsaan dalam ibadah di GKJ Semarang Barat. Sesuai Maklumat Pemerintah 31 Agustus 1945 menetapkan pekik perjuangan "Merdeka” sebagai salam nasional Indonesia ketika seseorang bertemu dengan orang lain. Pekik perjuangan ini berlaku sejak 1 September 1945. Caranya dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap wajah dan bersamaan dengan itu memekikkan “Merdeka” sebanyak tiga kali.
Hari ini minggu, 16 Agustus 2026, nanti malam sebagian besar masyarakat Indonesia akan mengadakan “malam Tirakatan”hari ulang tahun ke 81 Republik Indonesia. Indonesia telah mendeklarasikan sebagai Negara yang merdeka dan telah diakui secara de jure dan de facto oleh negara tetangga bahkan dunia. Itu artinya Indonesia telah menjadi negara yang bebas dari penjajahan bahkan bebas dari intervensi negara lain.
Indonesia sebagai negara yang telah merdeka memiliki cita-cita luhur, tujuan negara sebagai mimpi Indonesia yang damai sejahtera. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, alinea keempat merinci sebagai berikut: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Menurut sejarah Bangsa Indonesia dibangun dari keberagaman. Keberagaman itu tercermin dalam Semboyan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, "berbeda-beda tetapi tetap satu". Semboyan ini menegaskan bahwa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, bahasa, dan budaya tetap bersatu sebagai satu kesatuan bangsa. Perjalanan sebagai bangsa yang merdeka, terjadi banyak dinamika, misalnya muncul kelompok yang bersikap eksklusif, inklusif dan diskriminatif.
Bacaan hari ini juga mengajak seluruh umat untuk belajar bagaimana Tuhan Yesus yang peduli. Peristiwa perjumpaan Tuhan Yesus dengan perempuan Kanaan menunjukkan kasih Allah itu bersifat inklusif, tidak dibatasi oleh suku, agama, atau tradisi tertentu. Tuhan Yesus menerima semua orang untuk datang, berkomunikasi, berelasi tanpa memandang asal-usulnya.
Kepedulian Tuhan Yesus dinyatakan kepada perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan. Sekalipun perempuan Kanaan itu bukan orang Yahudi, Tuhan Yesus tetap mendengarkan permohonannya; Ia bahkan berkenan mengajaknya berdialog. Padalah menurut adat istiadat Yahudi, dialog perempuan Kanaan dengan Tuhan Yesus ini di larang. Artinya, Seorang laki-laki Yahudi tidak boleh berbicara dengan perempuan non Yahudi, bisa-bisa dianggap berzinah. Namun Tuhan Yesus dengan dilandasi kepedulian mengabaikan hukum tersebut. Tuhan Yesus menuntun perempuan Kanaan pada iman yang berdampak pada kesembuhan anaknya. "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." (ayat 28). Tindakan Tuhan Yesus ini melampaui dinding-dinding perbedaan yang selama ini memisahkan umat dari sesamanya.
Melalui bacaan Injil Matius ini, umat diajak meneladani sikap Yesus yang inklusif, berani keluar dari zona nyaman, dan memperjuangkan keadilan dengan rendah hati, seperti iman perempuan Kanaan yang gigih dan kreatif. Kiranya usaha umat untuk Membangun Bangsa Dengan Semangat Inklusif, senantiasa di berkati Tuhan Yesus. Amin.
🙏
Mari Berdoa
Tuhan, terima kasih atas firman-Mu yang menjadi pelita bagi langkah kami.
Bantulah kami untuk menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.