Sebagaimana kita tahu, umat Israel menghidupi konsep/pemahaman tentang penderitaan sebagai buah keberdosaan. Itulah yang menjadi alasan bagi umat Israel protes kepada Tuhan atas perbuatan dosa nenek moyangnya. Melalui ungkapan dalam ayat 2 “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu”, menunjukkan penghayatan umat bahwa penderitaan yang mereka alami saat itu (hidup di pembuangan) adalah akibat dari dosa dan kesalahan nenek moyangnya. Tidak ada kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri yang juga kerap berbuat dosa. Sebaliknya, mereka justru sibuk menyalahkan nenek moyang mereka dan protes kepada Tuhan yang mereka anggap tidak adil.
Melihat keadaan umat yang demikian, kita melihat bahwa seolah ini menjadi momentum yang tepat bagi Tuhan untuk menegaskan beberapa hal. Yaitu;
1. Mengingatkan kepada mereka bahwa setiap individu mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan. Sehingga bilamana mereka mengalami penderitaan, itu adalah konsekuensi atas tindakannya sendiri bukan semata-mata kesalahan dan dosa nenek moyang mereka. Karena itu, umat dipanggil untuk merendahkan hati menyadari, mengakui dan menyesali dosanya, bukan malah terus-menerus menyalahkan orang lain (dalam hal ini, menyalahkan nenek moyang)
2. Tuhan Maha Adil. Ia tidak berkenan akan kematian orang Fasik, maka perintah-Nya kepada mereka adalah “bertobatlah!”. Jika tidak, maka harus siap menanggung konsekuensi atas keberdosaannya. Sekilas ini seperti menampilkan sosok Allah yang kejam, namun sebetulnya tidak. Sebab sejatinya, Allah hendak menunjukkan cintanya kepada mereka agar mereka memilih bertobat dan menerima pengampunan untuk hidup daripada harus binasa oleh dosanya sendiri.
3. Pertobatan yang sejati tidak berhenti pada perkataan atau ucapan belaka, melainkan harus mewujud dalam perubahan laku hidup yang memilih kebenaran dan ketaatan. Sebab makna dari bertobat itu sendiri adalah “berbalik”. Itu berarti, meninggalkan kebiasaan lama dan menggantinya dengan laku hidup baru yang mengarah kepada kebenaran dan ketaatan.
Berdasarkan 3 hal di atas, kiranya menginspirasi kita dalam menjalani kehidupan sesehari. Marilah kita menyadari bahwa tidak ada di antara kita yang hidupnya tidak pernah berbuat dosa. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk merendahkan hati menyadari, mengakui dan menyesali dosa kita di hadapan Tuhan. Bukan malah sibuk menyalahkan dan menghakimi orang lain. Di sisi lain, mari senantiasa kita mengingat bahwa Tuhan menghendaki kita menerima pengampunan dan keselamatan. Maka, mari berbaliklah kepada jalan Tuhan. Meninggalkan kebiasaan lama yang hidup dalam keberdosaan, dan menggantinya dengan laku hidup baru yang senantiasa memperjuangkan kebenaran dan ketaatan kepada Tuhan. Roh Kudus menolong dan memampukan kita semua. Amin.
🙏
Mari Berdoa
Tuhan, terima kasih atas firman-Mu yang menjadi pelita bagi langkah kami.
Bantulah kami untuk menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.